YakusaBlog- Persoalan melihat Tuhan di akhirat, kelak banyak ditanggapi oleh para Mutakallimin (ahli kalam atau teolog) dengan tanggapan yang berbeda-beda. Golongan Muktazilah mengatakan bahwa Tuhan, karena bersifat non-materi, tak dapat dilihat oleh mata kepala. Mereka berargumen bahwa, Tuhan tidak mengambil tempat, baik di dunia maupun di akhirat dan dengan demikian Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat, karena yang dapat dilihat hanyalah yang mengambil tempat.
Golongan Muktazilah ini juga berpendapat,
kalau Tuhan dapat dilihat di akhirat dengan mata kepala, tentu akan dapat
dilihat di alam dunia sekarang. Ayat Al-Qur’an yang mereka jadikan dasar ialah
surah Al-An’am ayat 103 yang artinya:
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan
mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dia-lah yang Maha
Halus lagi Maha Mengetahui.”
Terkait pandangan golongan Muktazilah yang
berpendapat bahwa, Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat kelak, berbeda dengan
pendapat dari golongan Asy’ariyah. Golongan ini berpendapat bahwa Tuhan dapat
dilihat di akhirat dengan mata kepala, karena Tuhan mempunyai sifat-sifat
antropomorfis meskipun tidak sama dengan sifat jasmani manusia yang ada di alam
dunia ini.
Argumentasi yang mereka kemukakan adalah
bahwa Allah Swt memiliki kekuasaan melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya.
Melihat Tuhan di akhirat dengan mata kepala adalah suatu hal yang bukan
mustahil. Mereka mengatakan bahwa, yang tak dapat dilihat adalah yang tak
berwujud. Yang mempunyai wujud tidak mustahil dapat dilihat.
Menurut pendapat golongan ini, Tuhan adalah
berwujud dan oleh karenanya tidak mustahil dapat dilihat. Ayat Al-Qur’an yang
mereka jadikan dasar adalah surah Al-Qiyamah
ayat 22-23, yang artinya: “Wajah-wajah
(orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka
melihat.” Dan surah Al-A’raf ayat
143, yang artinya: “Dan tatkala Musa
datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan
Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: ‘Ya Tuhanku,
tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.’
Tuhan berfirman: ‘Kamu sikali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke
bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu
dapat melihat-Ku’…”
Demikian perbedaan pendapat dari kedua
golongan.[]
Baca juga: Dasar-Dasar Kepercayaan
Sumber: Eksiklopedia Hukum Islam, PT Ichtiar
Baru van Hoeve, Jakarta 1996, hal: 73.
Ket.gbr: Net/Ilustrasi
Sumber gbr: https://seteteshidayah.wordpress.com/
Ket.gbr: Net/Ilustrasi
Sumber gbr: https://seteteshidayah.wordpress.com/
No comments:
Post a Comment